Bapak…
Oleh : Ina Harjadi
Pwt, 2 Mei 2021
“Ayo..ngesuk malem minggu mangan - mangan
neng Restoran Sambel Murup, Bapak sing mbayar!” “Ayo, ngesuk dina minggu maring
laut mangan iwak, bocah-bocah pada renang”, “Ayo..ngesuk nyadran nyekar ”,
“Ayo...mbesuk tahun baru maring
Semarang, bocah-bocah dijak plesir Lawang Sewu mumpung prei” “
Ayo…ngesuk maring Kemranjen nyekar karo tilik Mas Sugeng mampir Bu Tuti. Masih
terngiang di telingaku ajakan bapak buat kami semua. Kami yang yang dimaksud di
sini adalah aku dan keluarga suamiku. Mereka
tiga bersaudara yaitu Mba Lies, Mas Didi ( suamiku ) dan Om Tito.
Seringkali Bapak mengajak kami untuk pergi bersama. Kami senang sekali bila mendengar hal itu. Semua antusias karena itu artinya semua harus bisa meluangkan waktu memenuhi ajakan Bapak. Maklum, karena kami masing-masing sudah mempunyai rumah sendiri-sendiri kecuali Mba Lies kakak pertama suamiku yang tinggal bersama Bapak karena Mamah Nini, begitu kami biasa memanggil Mamah sudah menghadap Allah SWT terlebih dahulu.
Tidak banyak yang Bapak lakukan untuk menghabiskan hari-harinya setelah diagnosis dokter menyatakan bahwa Bapak sakit jantung. Dulu Bapak senang sekali berolahraga Tenis hingga banyak piala berjejer rapi yang dipajang di atas buffet dari berbagai turnamen yang Bapak ikuti. Hebatnya, kebanyakan piala tersebut merupakan perolehan juara 1. Terbayang bagaimana ketika Bapak sehat, Bapak begitu menggemari olahraga ini. Usia lanjut dan sakit jantung membuat Bapak mengurangi banyak hal termasuk olahraga dan merokok.
Bapak juga menyikapi hasil diagnosis dokter tersebut dengan baik dan ikhlas. Dengan kesadaran yang tinggi, Bapak mulai berhenti merokok, tidak minum kopi, stop olahraga Tenis dan menghindari makanan berlemak. Rutinitas kontrol ke dokter dijalani dengan baik. Minum obat yang segepok pun Bapak jalani dengan ikhlas karena memang tidak boleh ada yang terlewati. Kedisiplinannya dengan jadwal minum obat selama bertahun-tahun membuat kami kagum. Bapak begitu semangat menjalani itu semua.
Untuk rutinitas ke dokter, awalnya Bapak tidak menggunakan Askes yang dimilikinya, namun Bapak lebih memilih ke dokter swasta langganannya. Kami hanya tinggal menelepon untuk mendaftar, kemudian ke tempat dokter praktek, dokter memeriksa Bapak dan memberi resep. Resep diberikan ke apotek dan langsung dibayar setelah selesai. Proses yang mudah dan tidak lama. Tempat dokter praktek juga nyaman dan tidak perlu melewati antre yang panjang.
Namun kemudian Bapak berubah pikiran untuk menggunakan Askes. Menggunakan Askes artinya no charge untuk semua obat dan kontrol setiap bulannya. Kami harus membuat rujukan dari puskesmas, mengambil nomor antrian dan semua harus antre ketika akan di cek dokter dan mengambil obat di apotek. Waktu yang tidak sebentar dan pasti melelahkan untuk Bapak. Namun Bapak bersikeras untuk menggunakan Askes dengan alasan yang kami dapat pahami bahwa di masa tuanya, Bapak semakin merasa sendiri, sedikit kawan atau merasa kurang perhatian. Ketika Bapak antre menggunakan Askes, Bapak dapat bertemu dengan banyak teman lansia dan dapat saling berbagi cerita dengan chemistry yang mirip bahkan sama. Kadang Bapak membawa cerita sedih karena Bapak A, B atau C sudah tidak dapat kontrol lagi dan meninggal.
Rumah kami memang tidak jauh dari rumah Bapak. Namun kami tidak bisa setiap hari berkunjung karena kesibukan kami bekerja dan mengurus keluarga kecil kami. Malam minggu menjadi ajang bertemu dengan kakak, adik, keponakan dan juga Bapak. Meskipun kami sudah wanti-wanti agar setiap perlu apapun Bapak hanya tinggal telpon dan memberitahukan kami yang Bapak butuhkan dan kami pasti segera datang. Maafkan kami, Bapak.
Sering kali kami dibuat kagum atas perhatian Bapak kepada kami. Batapa Bapak sangat sayang kepada kami semua. Pernah, bahkan sering, Bapak tiba-tiba datang ke rumah hanya sekedar ingin makan malam Mie Tek-tek yang ada di dekat rumah. Atau penasaran ketika kami “pamer”, membuat dapur baru atau teras baru di rumah mungil kami. “Pamer “ bukan dalam arti sebenarnya, kami hanya ingin membuat Bapak senang sambil membuktikan bahwa kami bisa membuat sesuatu yang baik. Ini loh Pak, kami berkembang, kami mandiri, dan kami bahagia karena kami yakin Bapak pasti senang ketika kami “pamer” sesuatu yang baik dan membahagiakan.
Teringat kala itu, kami pamer membeli mobil VW kodok dan mobilnya masih di Semarang. Dan sungguh di luar dugaan, Bapak yang merancang pergi ke Semarang untuk mengambil mobil itu. Semua harus ikut dan lagi, ajakan bapak selalu menjadi motivasi kami untuk bisa kumpul bersama “ngesuk maring Semarang, melu kabeh. Bocah-bocah prei dadi sekali-kali piknik”. Begitulah ajakannya hingga kami tak kuasa untuk menolak.
Bapak, kami kangen. Kami kangen sekali masa-masa itu. Kami kehilangan Bapak. Kami ingin mengulang masa-masa itu bersama Bapak.
Bulan Agustus adalah bulan baik karena Mamah Nini, Bapak dan aku berulang tahun. Aku senang karena aku bisa nebeng merayakan ulang tahun bersama Bapak. Dan, yang membuat aku terharu beliau selalu ingat ulang tahunku. Di whatsApp keluarga, beliau sering terlebih dulu menyampaikan selamat ulang tahun. Aku tersanjung, senang, merasa diperhatikan dan disayang. Terselip banyak doa disampaikan. Doa yang tulus dari orang tua adalah terutama dan utama. Beliau bapak mertua namun terasa seperti bapak kandung. Bapak yang tidak membedakan-bedakan anak, menantu atau anak sendiri. Terima kasih, Bapak!
Dua tahun sudah bapak meninggalkan kami semua. Kala itu, di tahun 2019, Bapak ulang tahun tanggal 19 Agustus dan seperti biasa kami makan bersama di Restoran Sambel Murub. Bapak terlihat biasa, baik dan ceria. Kami foto keluarga dengan gaya lucu. Bapak terlihat bahagia, mukanya terlihat lebih bersih dari biasanya. Tidak ada firasat apapun atau pesan apapun hari itu.
Hanya selang empat hari setelah itu, tepatnya tanggal 23 Agustus 2019, hari Jumat waktu subuh, Bapak pergi dengan sangat damai dan tenang untuk selamanya. Tidak terpancar kesakitan di raut muka Bapak meskipun beliau mempunyai penyakit jantung.
Beberapa hari sebelum meninggal, Bapak beberapa kali menuliskan permintaan maaf di grup WhatsApp keluarga. Dan berkali-kali Bapak wanti-wanti bahwa Bapak sudah menyiapkan semua di lemari baju ketika Bapak meninggal kelak. ”Kae, aku wis nyiapna mori, duit karo surat-surat penting. Mengko nek aku mati dadi ora pada bingung”. Masya Allah, Bapak sudah siapkan semuanya sendiri. Bapak tidak mau merepotkan kami. Bapak memang luar biasa!
Tidak ada yang mengetahui kapan kita atau seseorang akan meninggal kecuali Allah SWT. Sebagai seorang muslim, jika ada yang meninggal pada hari Jumat, maka akan mendapat balasan terbebas dari siksa kubur. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi Muhammad SAW. Bagi umat Islam, hari Jumat merupakan hari yang spesial. Bukan hanya bagi kaum muslimin yang hidup, tapi juga untuk mereka yang sudah meninggal. Sebagaimana Nabi Muhammad SAW bersabda: “Siapa saja yang meninggal di hari Jumat atau malamnya, maka dihapuskan siksa kubur dari dirinya".
Masya Allah, satu lagi kekaguman kami pada Bapak yang membuat kami ikhlas dan melepas Bapak dengan senyuman karena Beliau meninggal di hari yang sangat spesial, hari Jumat di waktu Subuh. Kami sangat kehilangan namun kami ikhlas. Insya Allah, almarhum husnul khotimah seperti yang dijanjikan Allah SWT. Bapak, kami ikhlas. Bapak sudah bertemu dengan Mamah, cinta sejati Bapak. Alfatihah….
No comments:
Post a Comment